Sabtu, 17 September 2011

Aku dan Daunku...

Sepiku sendiri
Tengok kananku, tengok kiriku
Sama saja
Kemana gerangan orang-orangku?
Aku sendiri, sepi
Mana bisa?

Tatapku daun-daunku tertiup
Sapu tanah atau main tanah?
Daunku berkejaran,
Berlarian tak tentu arah
Angin bertepuk kasih semangat
Semakin keras bertepuk, semakin daunku senang
Berlonjak!

Sepiku lagi, angin berhenti
Tatapku daunku
Bisik, berbisik, berisik
Singkapku telingaku
Ingin ku mendengarku
Inginku bergabungku
Biar tak sepi lagi

Bukaku mataku
Bukaku telingaku
Bukaku pi
kiranku
Sepiku

Nyatanya
Tetapku sendiriku,
Tak bisa dengar daunku
Aku bukan daunku,
Daunku bukan aku
Aku utuh sempurna,
Daunku tak begitu
Satu
Satu samaku
Dengan daunku
Mampuku dzikirku,mampunya dzikirnya
Kalahkah aku???
Renungku

”Yusabbihu lahuu maa fissamaawaati wal ardli"
April 4, 2004 at 7.50 a.m


How I really miss you, Dad...


Pejamkan mata sejenak, dan yakin bahwa bapak tidak ada saat berbuka karena lebih memilih untuk adzan magrib dulu seperti Ramadan biasanya
Pejamkan mata sejenak , dan percaya bahwa bapak sedang ada diruang tamu tadarus ba’da Magrib seperti Magrib-magrib sebelumnya
Pejamkan mata sejenak, dan tenang bahwa bapak sedang tertidur pulas didepan TV seperti malam-malam biasanya
Pejamkan mata sejenak, dan segera bangun karena tahu bapak telah lebih dulu bangun tengah malam untuk 2 rakaat seperti tengah malam sebelumnya
Pejamkan mata sejenak, dan segera bangun sahur karena bapak selalu jadi orang yang pertama menyiapkan sahur seperti Ramadan sebelumnya
Pejamkan mata sejenak,,, dan berharap gundukan tanah merah dengan batu nisan ini tak nyata,,
How I really wished you were still here...
How I really wished not to loose you seven days before Lebaran so it doesn’t hurt this much...
How I really miss you, Dad...